Rabu, 09 November 2011

China - Indonesia – Australia relations in the changing world

Background
The growing of China’s economy and military power in the recent decades argued by many experts as gradually will change the international power configuration, especially in Asia (White, 2011, and East Asia Forum, 2010, p-15). The more powerful and prosperous China, alongside the declining of the US power, is likely will change the surrounding countries engagement on political, economic and military relation with China. Situated in the close region, Indonesia and Australia will also be impacted by this geostrategic implication. Coincidentally interesting, the three countries will be presented in this essay represents three civilization in Huntington’s writing (1996), that are Confucius, Islam and Western civilization.
Following the Huntington’s theory of the clash of civilizations to remark the new world order, however, the reality on the ground was changing. The United States domination is likely decreasing, refers to the unsuccessful story of Afghanistan and Iraq war. This process occurred alongside with deterioration of the US economy due to the huge budget deficit and global financial crisis. As the new great power, China will likely be accepted as new reality in Asia alongside with the flooding of their manufacture products in the international market. The China’s economic growth is predicted will surpasses the United States as the largest economy in the world in 2020 based on The Australian Government’s Defence White Paper (East Asia Forum, 2010, p-15) after reaching double digit of growth for many years.

Senin, 14 Maret 2011

Agama dan Pembangunan

Agama memiliki peran yang tidak kecil dalam pencapaian kemajuan sebuah negara. Tak kurang, etika Protestan menjadi akar bagi pencapaian kapitalisme di Eropa. Perlawanannya terhadap hegemoni gereja Katholik di abad pertengahan yang jatuh dalam kegelapan dan kekuasaan yang despotik membuatnya menjadi elan bagi spirit baru yang berlandaskan kerja keras dan penumpukan modal. Dengan kaya orang bisa berderma dan memberikan lapangan pekerjaan bagi orang lain. Meski banyak kritikan terhadap ideologi yang mengagungkan kepemilikan modal sebagai faktor penggerak kemajuan tersebut, tidak bisa diingkari kekuatannya telah menjadi fenomena global saat ini.


Adalah ahistoris upaya memposisikan agama secara diametral dengan kehidupan masyarakat dan negara. Menampilkan sisi agama sebagai asset pembangunan adalah tugas yang mendesak saat ini. Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia, memiliki pengalaman pasang surut dalam hubungan agama dan negara. Di tengah kegalauan akan peran agama (islam) yang di media massa di-framing dalam gambar yang compang-camping saat ini, perlu dibuat terobosan bagi perbaikan kondisi ummat. Saat urusan-urusan politik telah terselesaikan, maka urusan meningkatkan kesejahteraan ummat menuntut segera ditunaikan.

Rabu, 09 Maret 2011

Writing Public Policy

In public policy, we must use language as a tool to deliver our ideas. Many philosophers are thinking about basic principles of language. We are directed by George Orwell to get the pure function of language. From Orwell’s explanation we also could identify the misuse of language for manipulation and vagueness. How language can be corrupted for political objectives producing “degeneration of language” and “ugly language”. Foucault, on the other hand focus his analytics on the potential hegemonic function of language by the power holder using the concept of “governmentality”. This term is related to how the government using language as a tool to “win the consent of citizens” and finally reach its objectives. Using this art work, the government tries to control citizen’s mentalities, cultures, rationalities, attitudes by using appropriate words and language.

Kamis, 10 Februari 2011

Al Jazeera and its "Framing War"

The article in Al Jazeera English website on 2nd February 2011 titled: “US Viewers Seek Al Jazeera Coverage” is a persuasion to the US audience that Al Jazeera is an alternative source of information covering news related to the Middle East region. It is not only promoting Al Jazeera’s advanced achievement of journalism, but also try to convince the western’s (especially the US) public and authority related to importance to give Al Jazeera access to reach its viewer enthusiasm.


It is obviously not easy to cover the objective facts in undemocratic region (refers to despotic and dictatorship regimes) with many conflicts because of oil and disputed land such as in the Middle East. There are appearing so many old fashion of censorship such as by cutting the access of information, closing news broadcaster office, confiscating the broadcasting equipment or journalist detention. Furthermore, the countries like Iraq, Bahrain, Algeria and Morocco prevent completely the access of Al Jazeera’s journalist into their territory.

Minggu, 30 Januari 2011

Sistem Pemerintahan Australia, Sebuah Refleksi

Ada dua peristiwa yang menghubungkan saya dengan pemerintah Australia. Pertama, saya mendapatkan beasiswa Australian Development Scholarship, sebuah beasiswa yang diberikan oleh pemerintah federal Australia kepada negara-negara berkembang untuk mendorong pembangunan di negeri sasaran. Yang kedua, saat saya mengurus childcare benefit (CCB) untuk anak saya di centre link di Braddon, Canberra, ACT. Kedua peristiwa tersebut yang mendorong saya untuk mencoba memahami konteks dan sejarah dari sistem pemerintahan Australia yang terdiri dari tiga cabang; eksekutif, legislatif dan yudikatif.


Australia adalah sebuah benua berpenduduk sekitar 22 juta orang yang kebanyakan tinggal di kota tepi pantai seperti Sydney, Melbourne, Brisbane, Adelaide dan Perth. Negara tetangga di sebelah selatan (australis: latin) kepulauan Nusantara ini adalah bagian dari monarkhi Inggris dibawah Ratu Elizabeth II seperti dalam coin Australia dengan Gubernur Jenderalnya sekarang bernama Quentin Brice yang istananya ada di Canberra. Benua yang dulunya sering dikunjungi pencari teripang dari Makassar dan berpenduduk asli bangsa Aborigin ini dikolonisasi oleh Inggris sejak kedatangan Kapten Phillip Arthur pada 26 Januari 1788 di Sydney cove, meski sebenarnya banyak penjelajah Belanda dan Eropa lainnya yang mendarat sebelumnya seperti Williem Janszoon, William Dampier atau Captain James Cook yang rata-rata juga sampai ke Batavia (Jakarta). Tak mengherankan nama lama Australia adalah New Holland.

Minggu, 23 Januari 2011

Patriotisme Australia: Pandangan seorang Indonesia

Setiap 25 April Australia menggelar ANZAC parade di depan War Memorial, lima menit jalan kaki dari unit (rumah) saya di bilangan Campbell, Canberra. Pada hari tersebut, Perdana Menteri Australia beserta segenap veteran dari berbagai angkatan dan generasi berkhidmad untuk sebuah peristiwa besar. ANZAC day adalah peringatan kekalahan Australia terhadap Turki di tahun 1915 pada pertempuran di teluk Gallipolli dengan korban sebanyak 8.709 pasukan. Australia yang bertempur bersama Inggris, Perancis dan British India untuk menghancurkan Turki Ottoman (sekutu Jerman) tergabung dalam ANZAC (Australian and New Zealand Army Corps). Meskipun menderita kekalahan, peristiwa tersebut diperingati sebagai hari kepahlawanan yang turut membentuk entitas bangsa muda bernama Australia.


Di War Memorial dengan api abadi di pelatarannya, ditulis nama-nama pasukan Australia yang tewas di berbagai pertempuran, termasuk daftar korban dalam konfrontasi di Kalimantan Utara. Catatan tentang para korban perang Australia juga saya saksikan di Shrine of Remembrance, Melbourne dengan bangunan menyerupai candi dengan tulisan “Greater Love Hath No Man” di dalamnya yang akan tersinari cahaya Matahari dari puncak the shrine pada jam 11 tanggal 11 bulan 11 (saat Jerman menyetujui gencatan senjata pada sekutu). Jika di dalam War Memorial dipajang berbagai peralatan perang dan memorabilia di berbagai konflik dalam penataan yang excellent, di the shrine dipamerkan panji-panji bendera pasukan serta berbagai bintang jasa para pahlawan Australia.

Kamis, 20 Januari 2011

Yang Unik-Unik di Australia

Saat di Australia, saya dapati banyak sekali hal menarik untuk ukuran kita orang Indonesia. Ada yang konyol, aneh, atau nggak masuk akal. Obyek-obyek unik tersebut mulai dari misalnya patung “Banana” raksasa di Coffs Harbour NSW, patung kambing raksasa (Big Merino) di Goulburn NSW, atau tak seperti dalam bayangan kita ternyata ada juga becak (padycab) di Australia yakni di Sydney. Terdapat kotak pos tertinggi di Canberra pada ketinggian lebih dari 800 meter diatas permukaan laut yang masih difungsikan, yaitu di dalam Telstra Tower.


Saya mulai mengumpulkan hal-hal unik ini saat pertama menemukan peringatan dalam bahasa Jawa di toilet perpustakaan ANU. Waktu itu saya berfikir, kenapa nggak cukup bahasa Indonesia saja (disamping bahasa asing lainnya) dalam pengumuman itu untuk menekankan keragaman audiens. Yang lainnya, waktu membersihkan ruangan di CIT saya dapati coretan ekspresif mahasiswa di meja kelas bergambar UFO, atau koleksi vespa kecil di atas lemari pegawai administrasi yang saya “curi” gambarnya dengan Iphone.

Indonesia dan Australia hanya dipisahkan laut Arafura, namun memiliki budaya yang jauh berbeda. Yang sudah saya ceritakan sebelumnya misalnya tentang dibuangnya barang-barang berharga yang sudah tidak diperlukan. Atau di Australia tidak ada tukang parkir dan pelayan pom bensin, alias semua harus self service. Bayangkan kalau kedua hal terakhir ada di Indonesia, bisa-bisa nggak ada yang bayar. 

Selasa, 18 Januari 2011

Tips “Hidup” di Australia

Dengan menceritakan tips hidup di Australia ini saya bukan bermaksud “sok menggurui”, namun lebih bernada “jangan ulangi kesalahan saya”. Sebab, kata orang pengalaman adalah guru terbaik dan menurut saya “mahal harganya”. Tips-tips disini juga tidak ditujukan bagi orang semacam “Gayus, dkk” yang sudah tidak memikirkan “sensitifitas harga”, namun lebih ditujukan bagi mereka yang berfikir rasional dalam “membelanjakan” tenaga dan uangnya. Tips ini berguna bagi mereka yang akan melanjutkan studi atau yang akan menetap lama di Australia.


Sebenarnya sudah banyak buku yang membahas hasil survey tentang biaya hidup, akomodasi, kerja part time di kota-kota di Australia, namun yang saya sampaikan disini materinya lebih taktis dan kontekstual sesuai pengalaman saya di Australia. Saya beruntung sebelum ke Australia dulu mendapat pelajaran cross cultural di IALF oleh Barbarra Wiechecki, dan juga tidak harus mengurus visa karena ADS office sudah melakukannya untuk saya sebagai awardee. Sengaja saya tulis share pengalaman ini dalam bentuk FAQ (Frequently Asked Question) untuk mempermudah pemaparan, berikut ini:

Minggu, 16 Januari 2011

Melbourne, Sydney atau Canberra terbaik untuk Kuliah?

Banyak pertimbangan sebelum seseorang memilih suatu kota sebagai tempat kuliah, mulai dari mutu universitasnya, jurusan studi yang tersedia, murah mahalnya biaya hidup, mudahnya mencari akomodasi, kerja part time sampai menarik-tidaknya kota tersebut. Kalau bisa wisata sambil kuliah, eh ….. kuliah sambil menikmati indahnya negeri yang kita datangi, nggak ada salahnya. Saya dulu memilih Canberra dengan minim pertimbangan, namun alhamdulillah cukup memuaskan. Dengan tidak mengesampingkan kota-kota lain seperti Adelaide, Perth, Wollongong, atau Brisbane yang sedang terkena musibah flash flooding, inilah hasil perenungan saya.

Kamis, 13 Januari 2011

Merasakan Kuliah di Australia

Sungguh bukan perkara mudah bagi saya untuk memperoleh beasiswa Australian Development Scholarship. Saat S-1 dulu saya mati-matian mencari IPK diatas 3 agar bisa melamar beasiswa luar negeri, dan setelah dapat masih harus lima kali apply sebelum akhirnya dipanggil. Saat wawancara saya ungkapkan alasan kenapa saya layak dapat chance untuk merasakan bangku kuliah di Australia karena ilmu yang saya cari terkait erat dengan pekerjaan saya di Indonesia, serta tentu saja saya ceritakan perjuangan panjang saya. 

Mungkin yang menjadi salah satu pertimbangan yang memberatkan keputusan panitia seleksi meloloskan saya adalah saya pernah menulis buku yang telah dikoleksi oleh Perpustakaan Nasional Australia (NLA). Buku berjudul Good e-Government tersebut pada akhirnya bisa saya temukan saat berada di Canberra tempat NLA. Hal lain yang menentukan menurut saya adalah doa orang tua dan banyak lainnya yang ingin saya bisa mewujudkan mimpi saya waktu kecil untuk bisa mengunjungi Australia.

Sabtu, 08 Januari 2011

“Duit Ostrali”

Di penghujung sampai pergantian tahun (November-Januari) kemarin nilai tukar Dollar Australia (AUD) terhadap Rupiah (IDR) menguat sangat signifikan. Dari yang biasanya berkisar Rp8.000,00 per dollar, pada periode tersebut mencapai sekitar Rp9.000,00 per dollar. Bahkan AUD mencatat sejarah untuk pertama kalinya melampaui nilai Dollar Amerika Serikat (USD). Kondisi tersebut tentu saja berkah bagi para pekerja “mahasiswa” yang mentransfer dollar hasil peras keringat selama di Ostrali ke Tanah Air, yang biasanya melalui kanggaru.net milik seorang Indonesia di Australia.

Otot-otot perekonomian Australia semakin perkasa sejak meningkatnya permintaan atas produk-produk Australia di pasar dunia. Negeri seperti China dan India yang haus bahan baku dan sumber energi untuk geliat industri mereka melakukan import besar-besaran atas produk-produk Australia. Lonjakan permintaan terhadap batu bara, bahan-bahan tambang serta produk pertanian dan peternakan (life stock) otomatis meningkatkan pula kebutuhan dunia akan mata uang bergambar ratu Inggris tersebut.

Sabtu, 01 Januari 2011

Yarralumla Mosque, Masjid segala Bangsa

Saturday, 01 January 2011 09:24 JALAN-JALAN


Wajah-wajah teduh Muslim dari anak benua India, benua Afrika, Asia Tenggara, Arab, Asia Tengah, Asia Timur, Eropa atau blasteran larut dalam tempat ini

Hidayatullah.com--Selepas kumandang azan, rangkaian kalimat penuh makna yang disampaikan dalam bahasa Inggris mengawali prosesi Jumatan siang itu. Bahasa inggris memang menjadi lingua franca bagi jamaah yang berasal dari berbagai negara.

Sesekali, sang imam menyelingi ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW (dalam bahasa Arab).Sang imam memberi pesan-pesan mengenai persatuan umat, akhlak islami, cara hidup Muslim, serta tata cara peribadatan yang benar. Ia adalah seorang diaspora dari tanah terjajah, Palestina.

Tak lupa di akhir khotbah sang imam bersemangat mengajak mendoakan saudara-saudara Muslim yang tertindas di berbagai penjuru dunia seperti Kashmir, Iraq, Kaukasus, Afghanistan, Thailand, Phillipina dan Palestina.

Kamis, 30 Desember 2010

Belajar dari Pengelolaan Alam Lingkungan di Australia

Segar dan melegakan paru-paru, begitulah udara yang saya hirup di Canberra. Meski Matahari terik menyengat, namun angin terasa dingin di awal musim panas itu. Beraneka tumbuhan empat musim menghiasi seantero kota. Beberapa jenis cemara mengeluarkan aroma yang khas. Pengaturan tata ruang kota yang bagus dan konsisten, larangan membakar sampah dan kepadatan kendaraan yang rendah turut mendukung lingkungan yang alami tersebut.

Di pagi dan sore hari kita akan disambut koak-an suara aneka burung. Burung-burung di sini memang bebas merdeka. Bebek (Plumed Whistling Duck) dan angsa hitam (Black Swan) datang dan pergi dari berbagai kolam dan danau yang ada di Canberra. Sementara, Kakaktua putih (Sulphur-crested Cockatoo), Kakaktua merah (Galah), gagak, Australian Magpie, jalak, merpati, maupun aneka burung parkit yang berwarna-warni juga bebas berkeliaran. Mereka berkelompok di taman-taman kota, rerumputan pembatas jalanan, termasuk di halaman flat saya di bilangan Campbell.

Rabu, 29 Desember 2010

Makanan Indo di Oz

Apa respon orang lapar saat menemukan makanan favorit, misalnya sambal teri yang pedas atau manis gurih pada jarak ribuan kilometer dari pembuatnya? Apalagi sambal teri tersebut sudah terhidang diatas piring dengan nasi hangat yang pulen, diperlengkapi dengan kerupuk udang. Ada kalanya dengan aroma jengkol kesukaan atau terasi yang sedap atau tahu tempe yang sangat langka. Jawabannya pasti siapapun akan melahapnya dengan senang hati.

Begini, jika setingannya dirubah agar semakin jelas. Anda berada di kota kecil di Australia, setiap hari makanan yang tersedia adalah khas Eropa, atau dari sudut dunia lain. Terus ada toko kecil menjual produk makanan Indonesia dengan harga yang terjangkau untuk ukuran Dollar meski tak murah untuk ukuran Indonesia. Juga terdapat label halal. Tentu yang anda lakukan adalah membelinya dengan gembira. Percaya nggak, hal terkait makanan ini yang mendorong perdagangan produk Indonesia di Australia.

Jumat, 24 Desember 2010

Etos Australia

Sapaan hangat, “hello mate”, sering saya terima saat membersihkan sebuah residential area di pagi hari. Sedangkan pada kesempatan lainnya, “Good day, mate”, atau “how are you going”, dengan senyum mengembang. “Work is work, mate!”, suatu saat seorang tetangga flat dengan muka protes menjawab “cengir malu” saya yang barusan mengaku kerja sebagai cleaner.


Selain itu kebanyakan orang Australia yang saya temui adalah suka menolong. Pernah suatu ketika saya ketinggalan kunci di dalam rumah, dan diluar dugaan saya para tetangga membantu dengan senang hati mengantarkan ke agen rumah untuk mendapatkan kunci cadangan. Pernah juga seorang ibu berlari kecil memberikan lukisan anak saya yang terjatuh saat di jalan. Namun pernah juga saya ditegur, “that’s not a rubbish bin!”, gara-gara saya buang tissue di pot bunga childcare anak.

Kamis, 23 Desember 2010

Australia dari Dekat: Kehidupan sehari-hari

Sore itu aku menemukan sebuah pesawat televisi tergeletak di tempat sampah Toad Hall, asrama mahasiswa ANU. Dengan gerakan senyap serta sebisa mungkin menghindari memberikan jawaban yang “memalukan” kepada penghuni lain, kamipun segera memindahkan kotak ajaib itu ke kamar dan mencobanya. Ternyata teve masih berfungsi dengan baik. Ternyata mitos di negara maju banyak barang berharga dibuang adalah benar adanya. Itulah perjumpaan budaya pertama kami dengan Australia.


Dari layar kaca itupun perjumpaan-perjumpaan lainnya menjadi semakin intens. “Di Australia acara televisi sama payahnya dengan di Indonesia”, kata dosen pembimbing akademik kami yang memang lumayan sering ke Indonesia. “Karena banyak opera sabun dan hal-hal remeh-temeh yang diproduksi karena motivasi rating”, tambahnya. Namun kalau mau jujur, disini acara sedikit lebih bagus. Minimal banyak acara edukatif dan terdapat channel khusus untuk anak-anak yang menumbuhkan kreatifitas serta menjauhkan mereka dari tayangan dewasa di channel lainnya. Tayangan multicultural ada di salah satu channel, SBS. Selebihnya adalah tayangan “Eropa”, “Amerika” dan “Inggris”.

Selasa, 21 Desember 2010

Solidaritas Bencana dari Australia

Persaudaraan dalam Islam ibarat “jika satu bagian tubuh sakit, maka bagian tubuh lainnya juga merasakan sakit”. Bangsa kita berturut-turut dilanda bencana alam mulai dari banjir bandang di Wasior, tzunami di Mentawai dan letusan gunung Merapi. Duka itu juga dirasakan oleh saudara-saudaranya yang tinggal jauh bumi belahan selatan, Australia. Sebagai perwujudan kepedulian warga Indonesia di Australia, beberapa kegiatan penggalangan dana dilakukan dalam periode bulan November sampai Desember 2010 dalam berbagai bentuknya.

Panitia peringatan hari besar Islam (PHBI) Canberra pada 12 November yang lalu menghadirkan Ust. Yusuf Mansur dalam rangkaian Tabligh Akbar penggalangan dana untuk korban bencana alam di Indonesia. Berbondong-bondong para “ekspatriat” warga Indonesia yang tinggal di Canberra hadir di Balai Kartini KBRI Canberra untuk mengikuti acara sebagai bentuk kepedulian terhadap saudara di Tanah Air yang tertimpa bencana. Mereka datang dari berbagai “profesi”, mulai dari mahasiswa, cleaner, diplomat, house keeper, ibu rumah tangga, pengusaha, dan seluruh komponen masyarakat muslim lainnya.

Minggu, 19 Desember 2010

Museum-Museum Australia

Meski termasuk “muda” secara sejarah dan budaya, Australia memiliki banyak sekali museum. Museum imigrasi, museum binatang, museum maritim, museum archieve, museum film dan audio, museum pencetakan uang, museum pendirian jembatan Sydney, war memorial dan museum kota Canberra untuk menyebut beberapa diantaranya. Australia seakan terus menuliskan sejarahnya dengan membangun berbagai museum tersebut.


Kebanyakan museum milik pemerintah Australia adalah free of charge alias gratis, namun dengan fasilitas, koleksi dan pelayanan yang sangat bagus. Penataan koleksi dilakukan secara detail dengan perencanaan yang matang, termasuk dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan visualisasi tiga dimensi. Audio visual dirangkai dengan berbagai koleksi untuk memperkuat tema-tema yang relevant.

Museum di Australia jauh dari kesan angker, lembab dan membosankan. Pada berbagai momentum, museum Australia juga menampilkan berbagai tema-tema tertentu yang menarik banyak pengunjung termasuk anak-anak sekolah, pensiunan dan khalayak umum. Selain untuk mengenal sejarah bangsanya, datang ke museum juga berarti untuk memperoleh berbagai ilmu pengetahuan yang berguna.

Selasa, 30 November 2010

Radio Australia

Tanggal 22 November yang lalu adalah hari bersejarah bagiku. Jika sebelumnya hanya bisa mendekati perwakilan Radio Australia di Canberra maupun Sydney, juga outlet ABC yang menjual macam-macam DVD, buku dan souvenir, hari itu aku “berhasil” mengunjungi kantor pusatnya di Southbank dekat sungai Yarra, Melbourne. Maklumlah, event itu telah aku nantikan lebih dari dua puluh tahun lamanya. Karena, jauh sebelum aku punya anak, menikah, bekerja, atau kuliah, saat SMP sampai SMA dulu tiap pagi dan sore aku mendengarkan siaran Radio Australia bahasa Indonesia. Aktivitas itu aku lakukan sambil menunaikan tugas menyapu lantai atau mencuci piring rumah, di Blitar.
Siang itu aku bertemu dengan para penyiar legendaris favoritku yang segera menyergapku dengan keramah-tamahan. Aku temui suara penuh wibawa Hidayat Djajamiharja. Kujumpai flamboyannya Oska Leon Setiyana. Kudengar secara life, suara mantab Juni Tampi yang selama ini hanya bisa aku dengarkan melalui acara warta berita. Eny Wibowo tampil seperti dalam bayanganku selama ini. Sayang, penyiar gaek lainnya seperti Edy Tando dan Istas Pratomo yang nyentrik sudah pensiun. Aku adalah pendengar Radio Australia pasca periode Ebet Kadarusman (alm), generasi ayahku. Beberapa penyiar generasi baru tak kalah ramah dan humble-nya. Sedangkan Dian Islamiati Fatwa, sangat memahami kebahagianku hari itu yang dengan telaten memperkenalkan kehadiranku dan menunjukkan berbagai fasilitas siaran yang ada.

Selasa, 02 November 2010

Implementing Performance Audit Toward More Accountable Governance in Indonesia

Introduction
Indonesia that has 33 provinces, 399 regencies (Kabupaten) and 98 municipalities (Kota) was implementing decentralization of government since the reform era. By this process, the local people expect will get higher benefit from their local administration through well managed projects and programs, also accountable, transparent, efficient and effective conduct of its financial system. The local stakeholders also hope responsiveness from their local government to fulfill their aspiration and real interests.
However, the reality in the ground is opposite with the public expectations. The level of selective governance indicators situated Indonesia in relatively low amongst countries in the world in the score of voice and accountability and rule of law (Kim, 2009, p.331). Klitgaard (1988 cited in Larmour, 2007, p.351) stated that corruption is happening because disappearance of accountability when officials have monopolies of power and high discretion to action. Furthermore, Larmour (2007, p.350) argued that corruption caused by bad individual, bad system and some combination.